Jika seseorang bertanya pada saya tentang hal apa yang paling berkesan dalam hidup saya, saya akan menjawab: “Perjalanan saya pertama kali ke Jogja.” Mengapa? Karena di situ saya pertama kali merasakan bagaimana rasa takjub pada suatu tempat dan pada cerita dibalik tempat tersebut. Saya merasakan hal yang tak biasa yang sebelumnya belum pernah saya rasakan di tempat-tempat lain. Jogjakarta meninggalkan sebuah kesan yang mendalam bagi seorang anak perempuan yang selalu ingin tahu.

2013. Saya adalah seorang anak perempuan yang berumur 13 tahun. Telah merencanakan sebuah perjalanan liburan dengan keluarganya yang awalnya hanya sekedar jalan-jalan biasa. Kali ini, kami memutuskan untuk pergi ke Jogjakarta. “Ayah! Bunda! Aku pengen ke Kraton. Aku pengen liat aslinya gimana!” Itulah motivasi awal saya untuk menginjakkan kaki di Jogjakarta. Sebagai seorang pecinta sejarah kerajaan yang mempelajari sendiri apa yang harus dipelajarinya, saya merasa ketertarikan saya tidak terpenuhi jika saya tidak mencari tau lebih dalam mengenai Kraton Jogjakarta, keluarga yang berada di dalamnya dan kota Jogjakarta itu sendiri.

Kami sekeluarga pergi ke Kraton didampingi seorang tour guide. Saya menyimak apa saja yang beliau jelaskan dan ketika itu saya merasa seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang baru, yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ketertarikan saya dengan dunia kerajaan, monarki dan aristokrasi membentuk saya untuk menghargai sejarah dan seluruh detil informasi yang bisa saya dapatkan saat ini. Ketika saya menginjakkan kaki di Kraton, perasaan itu muncul. Perasaan untuk menghargai dan melindungi sebuah aset sejarah berharga yang bisa dibilang sentimental untuk saya.

DSCN0317
Saya (kedua dari kanan) dan keluarga di Kraton Jogjakarta. ©Kya Hill / 2013.

Kraton adalah salah satu contoh yang memperlihatkan betapa kayanya Jogja dengan nilai sejarah yang kental yang sampai sekarang masih dipertahankan. Sebagai bagian dari generasi muda, saya sangat bersyukur karena kita masih mempunyai Jogja. Masih mempunyai sebuah daerah istimewa yang penuh dengan cerita. Sebuah daerah yang membuat saya merasa menjadi Jogja, menjadi Indonesia. Ketika saya menginjakkan kaki di dalamnya, saya merasa seperti ada di rumah kedua saya. Saya merasa seperti berada di tempat yang seharusnya saya berada.

Dari hobi dan ketertarikan saya pada dunia kerajaan, monarki dan aristokrasi, saya mendapat banyak teman dari luar negeri yang mempunyai ketertarikan yang sama. Kami bertukar wawasan, berdiskusi dan menyampaikan informasi-informasi penting seputar topik favorit kami semua. Saya selalu dengan bangga mempromosikan sebuah Kesultanan yang unik di sebuah Daerah Istimewa. Saya menjelaskan semua secara detil berdasarkan hal-hal yang saya ketahui. Tak jarang, banyak teman bule yang takjub dengan hal ini.

Mereka semua antusias, bertanya berbagai macam hal. Mulai dari protokol, istana, anggota kerajaan, apa kepentingan dari pakaian yang di pakai serta hal-hal lainnya. Saya akui, kadang saya membutuhkan bantuan pencarian informasi cepat di Google untuk kemudian saya ambil poin pentingnya dan dijelaskan lebih dalam lagi pada teman-teman saya yang rata-rata berasal dari Eropa yang sudah tidak asing lagi dengan sebuah monarki atau kerajaan. Saya bangga bisa mempunyai ‘bahan pamer’ sendiri. Mereka punya London, yang lain punya Copenhagen, tak mau kalah yang lainnya punya Stockholm. Saya punya Jogjakarta.

Jogjakarta dengan segala keistimewaannya, dengan segala daya tariknya. Berhasil merebut hati saya dan menetapkannya di sana. Seperti yang orang-orang bilang, “I left my heart in Jogjakarta.” Saya meninggalkan sebagian diri saya di Jogjakarta. Kesan saya terhadap daerah yang istimewa ini akan selalu terkenang di dalam hidup saya sebagai sebuah pengalaman pertama saya, seorang anak perempuan yang ingin tahu yang akhirnya jatuh cinta.

Saya merasa, tidak ada daerah lain yang lebih unik, lebih istimewa, lebih kaya dan beragam serta lebih mengesankan dari Jogjakarta. Karena hingga saat ini, saya selalu ingin kembali lagi, lagi dan lagi. Saya ingin terbawa dengan suasananya yang seakan-akan mengundang saya untuk mencari tahu lebih dalam lagi, lebih jauh lagi dan terus menggali segala informasi yang bisa saya dapatkan.

Saya mencintai Jogjakarta dari awal saya menginjakkan kaki saya di sana. Saya mencintai Jogjakarta karena hanya di sana, saya merasakan ketakjuban yang luar biasa. Di sana saya mengerti arti dari menjaga, menghargai dan mencintai sejarah.

Jogjakarta adalah bagian hidup saya.

“Kota kita tidak memerlukan kata pujian yang berlebihan. Dia hanya perlu sentuhan kasih dari hati nurani kita.”

-Sri Sultan Hamengkubuwono X

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s